Jember- Suasana menjadi sedikit hangat pasca Prof (Ris) Hermawan Sulistiyo, MA, PHD, APU, mendaulat Ir HM Sujatmiko alias Mas Jat, tokoh DPRD Jember dari Golkar untuk maju menjadi Calon Bupati Jember 2010 mendatang dari unsur apapun. Jika tidak bisa melewati partai maka bisa mencalonkan melalui Independen.
Hal ini, langsung membuat sejumlah tokoh dari LSM, wartawan, mahasiswa, dan petinggi Parpol di Jember menyambut dengan berbagai macam tanggapan.
Kendati Pilkada Jember masih dua tahun lagi, Prof Hermawan Sulistyo, sepertinya serius mencalonkan Mas Jat ini menjadi Cabup 2010.
Hermawan alias Kiki ini mengatakan bahwa bukan tidak mungkin seorang yang berkapasitas seperti Mas Jat itu, menjadi pemimpin. Pengalaman di partai politik sudah lengkap, pengalaman organisasi sudah sangat banyak, apalagi mengatur pemerintahan dan administrasi pemerintahan sangat paham.
Bukan seperti calon dari independen lain yang tidak mengerti administrasi keuangan daerah. Sehingga apa jadinya, setelah menjabat malah dikrangkeng Kejaksaan Agung.
Sebelumnya, Kiki, menegaskan bahwa wacana calon Independen dalam kancah politik Pemilu Nasional baik Pilpres, hingga Pilgub, dan Pilbup di Indonesia ini karena menunjukkan indikasi kuat tidak ada saluran atau kanal dari Parpol untuk memperjuangkan atau memilih tokoh pemimpin yang benar — benar bisa menyejahterakan rakyat bukan menyejahterakan tim sukses atau sekelompok orang saja.
Berbicara soal partai politik, tidak terlepas dari kekuasaan, dan katup kelangsungan ekonomi. Orang ingin masuk partai politik tapi setelah jadi ingin menguasai sendi — sendi ekonomi itu untuk kepentingan diri pribadi, dan kelompoknya.
Bahkan banyak wakil rakyat di negeri ini yang duduk di lembaga legislatif itu hanya berlagak memperjuangkan kesejahteraan rakyat untuk merebut kekuasaan tapi setelah itu hanya memperkaya diri sendiri, dan membantu partai politik. Parpol tak ubahnya sebagai sarang para pencoleng dan pengeruk uang rakyat.
“Maka lantas kenapa saya harus keliling Indonesia hanya untuk memberikan pencerahan semacam ini. Tak lain untuk pendidikan politik. Kalau perlu kita akan dirikan sekolah politik bagi aparatur pemerintah di Surabaya Jatim ini,” ujar Kiki.
Dia melihat bahwa ke depan wacana Independen semakin menguat karena bisa menjadi cambuk, cemeti, atau cubitan bagi Parpol untuk berbenah. Dari sekian banyak partai politik yang ada itu diharapkan bisa menjadi penyaring untuk mencari pemimpin. “Cari pemimpin yang baik. Tentu saja tidak baik secara integral,” tukasnya.
Tapi di sisi lain, menurut Kiki, calon Independen itu ada plus minusnya. Sebab, jika nantinya terpilih seorang bupati dari Independen dan tidak memiliki agar kuat di partai, atau di legislatif akan menjadi mainan bagi anggota DPRD. Digoda di APBD dan rancangan anggaran dan akan merepotkan.
Sementara di sisi lain, akan secara merdeka bisa melaksanakan pemerintahan dan tugas itu bebas tanpa terikat.
Negara ini sudah dikuasai oleh parpol lewat fraksi farksi di DPR. Rekruitmen pemimpin negara via parpol. Semua keputusan politik negara ditentukan oleh fraksi di DPR dari parpol. Kondisi itu memang sesuai dg konstitusi kita. Sementara itu saat ini rakyat sudah mengetahui karakter para pemimpin yg sebagian besar telah berkianat pada rakyat Keputusan di bidang politik, ekonomi, hokum, social cenderung tidak memihak rakyat. Wacana rekruitmen pemimpin negara dari personal independen perlu diperjuangkan oleh siapa saja yg menginginkan adanya perubahan di negeri ini. Memang parpol akan gigih mempertahankan status itu secara mati matian. Karena itu dibutuhkan seorang yg mampu mengorganisasikan, memperjuangkan, membelajarkan kepada rakyat agar sadar dan bersedia mendukung perjuangan terjadinya perubahan itu, lewat calon independen.